seragam sekolah harus dihapuskan bagian 2

Bila seragam sekolah dihapus, peserta didik akan belajar perbedaan mulai
dari hal-hal mendasar. Anak didik bebas mempergunakan pakaian sesuai dengan
kondisi perekonomian masing-masing. Anak didik juga akan berbaur dengan
sesamanya bukan karena seragam melainkan oleh kepribadian dan keunikan
masing-masing.

Tidak perlu dicemaskan anak didik dari keluarga mampu memakai pakaian yang
bagus, mewah, dengan mengikuti mode- mode terbaru, sementara anak- anak
miskin memakai pakaian kumal, dan tak bisa berganti- ganti mode. Justru anak
didik dari keluarga mampu akan belajar dari anak-anak yang kurang mampu
untuk bersolider.

Penghapusan seragam sekolah justru meminimalisasi kesenjangan antara peserta
didik yang kaya dan yang miskin. Anak didik yang mampu justru akan belajar
bertoleransi dengan anak didik yang kurang mampu. Wong kenyataan di
masyarakat anak yang mampu rumahnya lebih bagus dibandingkan dengan yang tak
mampu. Kini anak-anak dari keluarga kaya pun sudah diantar dengan mobil ke
sekolah, sementara yang miskin cukup naik bajaj, angkutan kota, bus umum,
dan jalan kaki tidak perlu lagi dipermasalahkan.

Lagi pula, apakah ada korelasi antara anak didik yang berasal dari golongan
kurang mampu akan minder karena berpakaian lusuh dibandingkan dengan
anak-anak kalangan kaya yang berpakaian bagus? Juga apakah seragam ada
kaitannya dengan prestasi yang diperoleh seseorang? Seragam sekolah dalam
konteks ini hanya dipandang sebagai sarana manifestasi kebersamaan di antara
siswa tanpa membedakan jenjang status sosial. Di negara- negara maju sudah
lama keharusan mengenakan seragam sekolah dihilangkan. Di AS misalnya
seragam diserahkan pada sekolah masing-masing.

Menurut Myers (2002), penghapusan seragam sekolah justru berdampak pada
penciptaan labelling dan pemilahan teman antarsiswa. Hal ini terkait dengan
konsep group reference yang terbentuk karena proses sosialisasi dan perasaan
terikat dengan kelompok tertentu.

Sangat mungkin terjadi perbedaan group reference antara kelompok kelas
ekonomi bawah, menengah, dan atas. Adanya group reference ini akan
memunculkan groupthink. Groupthink adalah mode berpikir di mana orang akan
cenderung mengacu pada kesepakatan kelompoknya. Kesepakatan tersebut akan
dijadikannya acuan dalam berperilaku. Groupthink akan mengarahkan seorang
anggota kelompok tertentu memandang anggota kelompok lain secara kurang
realistis, lebih menyesuaikan pendapat kelompok referensinya. Kesepakatan
yang muncul dalam persahabatan bukan atas dasar pakaian melainkan
tahap-tahap dan tugas perkembangan.

Oleh karena itu, penghapusan seragam sekolah lebih bermakna positifnya bagi
pembentukan kepribadian siswa. Penilaian yang berpendapat bahwa seragam
merupakan cerminan budaya bangsa yang menyukai keseragaman tak menghargai
kebebasan dan membelenggu independensi tak relevan dikemukakan.

Anak-anak digiring ke model pendidikan yang seragam, seperti harus mayoritas
yang menang, harus di lembaga pendidikan tertentu. Penghapusan seragam
sekolah harus disertai dengan penghapusan berbagai bentuk
penyeragaman-penyeragaman dilakukan yang berdampak pada pengenalan peserta
didik terhadap sesama, apalagi kemampuan menghargai perbedaan yang ada dalam
masyarakat berkurang.
Justru peserta didik sedini mungkin diperkenalkan dengan konsep pendidikan
yang menghargai perbedaan, baik dalam segi agama, suku, kebudayaan maupun
adat istiadat. Keragaman peserta didik dipergunakan sebagai ajang belajar
bersama satu dengan yang lain.

Dengan cara demikian, perbedaan agama, bakat, suku, dan kepandaian dalam
lingkup kecil di kelas dipergunakan sebagai ajang belajar memahami
masyarakat secara keseluruhan. Wacana penghapusan seragam tidak perlu
dipolemikkan berkepanjangan. Di samping wacana penghapusan seragam sekolah
masih lebih banyak agenda lain pendidikan yang memerlukan perhatian serius,
seperti pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme di kalangan aparatur
pendidikan, peningkatan anggaran pendidikan, kurikulum, pembinaan guru,
serta pendidikan murah yang mampu dijangkau semua kalangan.
Pada masa kini, pembicaraan mengenai pendidikan yang mengedepankan perbedaan
(pluralisme) dan perbedaan budaya (multikultural) perlu mendapatkan tempat
yang lebih luas dalam masyarakat. Tema- tema menghargai orang lain sebagai
agama, budaya, suku, perlu mendapat tempat tidak saja karena kita tengah
dalam ancaman pertikaian, konflik, dan perpecahan melainkan kemampuan
menghargai perbedaan justru menjadi perekat yang ampuh menyatukan seluruh
elemen bangsa.

Pendidikan adalah pembentukan manusia Indonesia secara keseluruhan. Karena
itu, pada hakikatnya, membenahi pendidikan hanya dengan menghapuskan pakaian
yang dikenakan dan metode ujian yang dipakai belum menyentuh gunung es
persoalan yang lebih besar.

Fungsi utama pendidikan, bukanlah hanya terbatas pada learning to know
(belajar untuk memperoleh pengetahuan), learning to do (belajar untuk dapat
berbuat dan bersikap), dan learning to be (belajar untuk menjadi), tetapi
lebih dari itu, yakni learning to live together (belajar untuk dapat hidup
bersama).
Artinya, pendidikan seharusnya mengajarkan kepada setiap anggota masyarakat
untuk menghargai kemajemukan dan membekali mereka dengan kemampuan untuk
hidup rukun sebagai manusia. Sekolah mempunyai peran besar membentuk
karakter individu dan kepribadian peserta didik.
Gagasan Menteri Pendidikan Nasional mengenai penghapusan seragam sekolah
justru perlu didukung.

Paulus Mujiran Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata
(YKKS)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

seragam sekolah harus dihapuskan

Seragam Sekolah Seharusnya Dihapuskan
Ambon
Sun, 28 Nov 2004 11:51:31 -0800
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/29/opini/1403657.htm
Senin, 29 November 2004

Seragam Sekolah Seharusnya Dihapuskan
Paulus Mujiran

MENTERI Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengambil kebijakan penghapusan
seragam sekolah. Mendiknas berpendapat, segala upaya penyeragaman, termasuk
buku dan sepatu, akan berdampak terjadinya monopoli yang merugikan
masyarakat.

Budayawan Mangunwijaya (1998:213) menulis ketidaksetujuannya terhadap
seragam sekolah. Mangun mengatakan, seragam sekolah justru berlawanan dengan
semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dalam konsepsi Bhinneka Tunggal Ika semua
ikatan primordial dihargai dan disempurnakan menuju kebersamaan nasional.
Maka, perlu dipertanyakan, apakah penyeragaman lahir cukup mengindahkan
keanekaragaman batin? Apakah tak ada bahaya bahwa karena tekanan pada yang
lahir, penanaman nilai-nilai yang menuntut keterbukaan batin menjadi
terdesak?.

Salah satu alasan menyeragamkan pakaian sekolah secara nasional adalah
memupuk kebanggaan nasional. Yang relevan untuk dipertanyakan adalah apakah
pada umur sekolah taman kanak-kanak (TK) dan menengah semangat kebanggaan
nasional mungkin dikembangkan? Proses memupuk kebanggaan nasional dimulai
pada waktu anak kecil dibiasakan berbangga dengan keluarganya sendiri.
Waktu anak TK dan sekolah dasar (SD) menghadapi anak lain, yang ditonjolkan
selalu ayah, ibu, atau kakaknya yang lebih hebat dari ayah, ibu atau kakak
lawannya. Dunianya baru ruang lingkup keluarga. Yang lain merupakan dunia
luar yang masih dialami sebagai ancaman terhadap keamanan keluarga.
Mangunwijaya tak pernah menjamin bahwa hanya dengan mengenakan seragam akan
mampu memupuk kebanggaan nasional. Kebanggaan nasional adalah internalisasi
batin peserta didik dari kecil hingga dewasa dan bukan dengan penyeragaman.

Baru pada usia SD dan selama sekolah menengah, remaja mulai membentuk
kebanggaan baru, kebanggaan menjadi anggota kelompok baya (peer group) dan
sekolahnya. Guna mendapatkan identitasnya, ia membutuhkan lingkungan hidup
yang membedakannya dari keluarga. Dunianya masih amat terbatas. Dunia orang
dewasa tetap dipandang sebagai lawan yang akan menggagalkan usahanya menjadi
diri sendiri. Mangun memberi jalan tengah jika pemakaian seragam untuk
menghindari anak didik berpakaian mewah.

Orangtua yang tidak mampu berusaha supaya pakaian anak mereka sopan, bersih
dan rapi, walaupun kurang mewah bahannya dibandingkan dengan teman yang
lebih kaya. Orangtua yang mampu diharapkan menghindari bentuk-bentuk pakaian
mewah. Yang kurang mampu tahu bahwa bahan pakaian teman sebangkunya mahal,
dan yang kaya juga tahu pakaian temannya sederhana. Kedua-duanya dibekali
oleh orangtua mereka bahwa mentalitas dunia penuh dengan perbedaan, tetapi
perbedaan itu sama sekali tidak mengurangi harga diri setiap pribadi.

Penggunaan seragam sekolah merupakan praktik pembungkaman yang oleh pakar
pendidikan Paulo Freire, penulis buku Pedagogy of the Oppressed (1972),
menyatakan, praksis pendidikan pada kenyataannya tak lain sebagai proses
pembenaran akan praktik-praktik penindasan yang sudah melembaga. Sekolah
sebagai alat pembebasan juga harus mendidik peserta didik dengan cara-cara
yang membebaskan.

Proses penindasan yang sudah melembaga justru semakin dilegitimasi
kehadirannya lewat metode dan sistem pendidikan yang paternalistik,
pendidikan ala bank, dengan menonjolkan kontradiksi antara murid dan guru,
kaum penindas dan tertindas, pendidikan instruksional dan antidialog. Dalam
sistem ini, sekolah sebagai alat penjinakan.

Murid dipojokkan begitu rupa sehingga mereka terpaksa bersikap pasrah dan
nrimo. Murid digiring ke dalam kebudayaan diam dan bisu. Mereka tidak boleh
mengenali diri sendiri dan realitas dunianya yang tertindas. Karena
kesadaran semacam ini membahayakan keseimbangan struktur masyarakat hierarki
piramidal, yang selama ini diidamkan, tetap berlangsung oleh sekelompok
elite sosial politis.
Malahan, kepribadian seseorang sering diukur dari seragam yang dikenakannya.
Pemakaian seragam juga tak ada hubungannya dengan aspek seperti masalah
kesenjangan antara anak- anak kaya-miskin, disiplin, dan identitas peserta
didik. Seragam pada masa Orde Baru lebih merupakan propaganda untuk
mendukung kekuasaan.

Pada saat-saat tertentu, peserta didik dengan pakaian seragam dipaksa
berbaris menjadi pagar betis berkilo-kilo meter untuk menyambut kedatangan
pejabat. Jam pelajaran terpaksa dikalahkan untuk menyambut kedatangan
pejabat. Dengan seragam pula anak didik dilatih baris-berbaris ala tentara
dan menjadi kegiatan rutin di sekolah yang tidak bisa ditentang.
Penyeragaman lebih merupakan upaya pemberangusan dari beragam perbedaan yang
ada dalam masyarakat agar kontrol penguasa dapat dilakukan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Belajar Dari Jepang Membentuk Komunitas Terdidik

Sejauh mana kita telah mengamati perilaku bangsa kita sendiri? Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).

Sekarang, cobalah cermati sebentar sekilas tulisan ini, tulisan yang mencoba menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang sangat sederhana.

Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.

Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, fenomena ini bisa terlihat dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar pukul 19:30. Ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.

Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.

Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).

Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?

Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Belum pernah ditemukan adanya analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.

Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.

“Knowledge is power, and character is more, but lucky is everything”

Sumber : Romi Satria Wahono, lewat situs
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Belajar%20Dari%20Jepang%20Membentuk%20Komunitas%20Terdidik&&nomorurut_artikel=197
yang juga dikutip dari Surat Kabar Republika, tanggal 15 Juli 2002.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sekarang info film

Yugi Clieh Nebuchadnezzar 18 February at 19:08 Reply
Lupakan deretan film unggulan 2009 yang kebanyakan hasilnya mengecewakan. Berikut daftar film Hollywood yang release di tahun 2010, baik yang sudah release di bulan Januari dan Februari maupun yang akan release.

Januari
1. Daybreakers
2. Lap Year
3. Wonderful World
4. Youth in Revolt
5. The Book of Eli
6. The Spy Next Door
7. Creation
8. Extraordinary Measures
9. Legion
10. To Save a Life
11. Tooth Fairy
12. After Dark Horrorfest 4
13. Edge of Darkness
14. When in Rome

Februari
1. Dear John
2. From Paris With Love
3. Percy Jackson & The Olympians : The Lightning Thief
4. Valentine's Day
5. The Wolfman
6. The Yellow Handkerchief
7. Shutter Island
8. A Couple of Dicks
9. A Prophet
10. The Crazies
11. Takers

Maret
1. Alice in Wonderland
2. Brooklyn's Finest
3. Green Zone
4. Greenberg
5. Hard 10
6. Our Family Wedding
7. Remember me
8. The Bounty Hunter
9. Chloe
10. Hubble 3D
11. Last Night
12. Season of The Witch
13. Clash of The Titans
14. How to Train Your Dragon

Untuk April sampai Juni lain kesempatan ya....
Adakah film-film diatas yang kalian tunggu?
Jangan lupa selalu ramaikan grup

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kehebatan mobil asli Indonesia

Sebuah mobil Timor, meluncur di jalan tol jagorawi.

Tidak lama kemudian mobil itu mogok. Sebuah Mercedes berhenti, dan menolong mobil Indonesia tadi dengan menggandengnya di belakang. Pada saat itulah muncul sebuah BMW, melesat dengan kecepatan tinggi. Pengemudi Mercedes tadi penasaran dan langsung tancap gas.

Sopir Timor yang ditarik di belakang Mercedes membunyikan klaksonnya bertubi-tubi dengan muka pucat pasi. Sebab, sementara terseret dalam "balapan" ini, mobil "asli" buatan Indonesia tadi mulai berantakan satu-persatu. Pintunya tanggal, jendelanya copot, baut dan mur beterbangan.

Kebetulan mobil reporter RCTI untuk Seputar Indonesia yang sedang melaju, disalib kendaraan yang ngebut tadi.

Esoknya, Seputar Indonesia memberitakan:
"Kemarin, sebuah mobil Mercedes dan BMW berkejaran dengan kecepatan mendekati dua ratus kilometer per jam di jalan tol Jagorawi. Di belakang kedua mobil buatan Jerman yang sangat terkenal itu, sebuah mobil Timor buatan negeri kita membunyikan klakson tidak henti-hentinya, meminta jalan untuk melesat ke depan."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sekedar Guyon

Di sebuah Sekolah Dasar sedang diterapkan sebuah mata pelajaran baru, yaitu PMWR alias Pelajaran Mengenal Wakil Rakyat. Kemudian si Guru memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan pada murid-muridnya.

Guru: Bupati dan Wakil Bupati, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?

Murid: Bupati, Bu!!!

Guru: Gubernur dan Wakil Gubernur, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?

Murid: Gubernur, Bu!!

Guru: Presiden dan Wakil Presien, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?

Murid: Presiden, Bu!!

Guru: Rakyat dan Wakil Rakyat, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?

Murid: Seharusnya sih Rakyat, Bu!!

Guru: Kok, pakai seharusnya?

Murid: Karena sekarang malah terbalik Bu guru.

Guru: Bagus, terus tanda supaya kita kenal sama Wakil Rakyat kita bagaimana?

Murid: Yang pasti mereka suka warna abu-abu.

Guru: Betul, terus apalagi?

Murid: Suka konspirasi politik.

Guru: Demi apa?

Murid: Kepentingan, Bu!!

Guru: Tepat sekali, sering muncul dimana mereka?

Murid: Di televisi, Bu!

Guru: Karena apa?

Murid: Karena skandal dan kasus, Bu!!

Guru: Aduh, anak murid Ibu pinter-pinter, terus ciri Wakil Rakyat apalagi?

Murid: Pasti sering mendadak tajir, Bu!!

Guru: Darimana, kok bisa gitu?

Murid: Diam-diam kan nyolong, Bu. Kalau nggak ya dapat hibah gono-gini gak jelas.

Guru: Dari siapa?

Murid: Dari yang pengin diuntungkan.

Guru: Terus kan Wakil Rakyat sering mengadakan sidang, berapa tahun sekali?

Murid: Setiap hari, Bu!!

Guru: Kok bisa, alasannya?

Murid: Kan biar dapat tunjangan dan komisi rapat.

Guru: Biasanya yang dibahas apa?

Murid: Nggak ada Bu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Guru: Jadi Rakyat dengan Wakil Rakyat, yang mana bosnya?

Murid: Ya, semestinya Rakyat dong, Bu!!

Guru: Kenapa semestinya?

Murid: Karena aneh, Bu!

Guru: Aneh kenapa?

Murid: Masak bos kekurangan beras di rumahnya, Bu! Sedangkan Wakilnya malah asik impor beras. Nimbun juga bisa kali, Bu.

Guru: Bagus-bagus, ternyata sebelum diajari kalian sudah banyak tahu tentang Wakil Rakyat ya.

Murid: Iya dong Bu, kan sudah jadi bukan rahasia lagi. Rakyat sudah banyak yang tahu, Bu.

Guru: Sudah banyak yang tahu mengapa asik ongkang-ongkang kaki di Parlemen?

Murid: Kan, nggak tahu malu, Bu.

· · · · · · · · · ·

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KRISIS PANGAN KERAP MELANDA BERBAGAI NEGARA DIBELAHAN DUNIA.

Mari coba kita hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari.:
Jumlah penduduk Indonesia +/- 250.000.000 orang..
Kalau satu hari 3 X makan dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, maka setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang setiap orang. Maka 3 butir X 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari.......(Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan?)

Ternyata setelah dihitung, dalam 1 kg beras terdapat +/- 50.000 butir....... Maka :
750.000 : 50..000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras dibuang setiap hari.

Kalau 1 kg beras cukup untuk 10 orang makan, maka 15.000 X 10 orang = cukup untuk 150.000 orang makan. Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.

Kalau seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang. FANTASTIK bukan??!! Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini.

Oleh karena itu, ingatlah!!! Sebutir nasi tidak mudah dihasilkan.. . Sebutir nasi sejuta keringat.... !!!
Tolong jangan sia-siakan sebutir nasi! Mari sama sama kita selamatkan sumber daya alam kita!!!
Dengan menyayangi sumber daya alam. kita baru bisa mencegah dan mengurangi krisis pangan bahkan bencana yang sedang melanda dunia ini. Niscaya hidup kita akan dipenuhi berkah dan rejeki...... ..


SEMOGA SETIAP ORANG YANG MEMBACA EMAIL INI DIBERI KESADARAN DAN MAU MELANJUTKANNYA KEPADA YANG LAIN, SEHINGGA TIMBULLAH KESADARAN SEJATI DIHATI TIAP PEMBACA.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS